Sabtu, 15 Oktober 2016

LGBT "Perangkap Setan"

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Tantangan mendidik anak khususnya yang beranjak remaja pada saat ini semakin kompleks. Perkembang-an teknologi yang sedemikian canggih semakin membuka tabir budaya antar bangsa nyaris hilang. Dengan gadget/smartphone di tangan budaya penduduk seantero bumi ini bisa kita

saksikan. Cara bertutur kata, model berpakaian, potongan rambut, selera bergaul, macam makanan dan lain sebagainya sangat mudah kita akses dengan alat komunikasi tersebut. Dan yang perlu kita cermati adalah budaya-budaya tersebut sebagian besar bersumber dari dunia barat yang jelas-jelas bermadzhab kebebasan. Apa pun boleh dilakukan. Dan sering kali mengabaikan nilai-nilai moral dan agama.

Contoh yang membuat kita miris adalah dilegalkannya perkawinan sesama jenis di Amerika Serikat pada Juni 2015, melengkapi 20 negara Barat dan Afrika yang telah terlebih dahulu melegalkannya. Tentu hal ini semakin menambah bukti bahwa negara Barat senantiasa mengutamakan nafsunya dari pada nilai moral dan agama. Karena Vatikan yang katanya menjadi kiblat agama mereka jelas-jelas menolak, tetapi begitu mudahnya mereka menentang dan meninggalkannya.

Pelegalan ini telah menjadi angin segar bagi gerakan LGBT (Lesbianisme, Gay, Transgender dan Biseksual) laksana virus yang begitu mudah hinggap pada diri seseorang. Kini para orang tua harus betul-betul waspada!!! Anak adalah titipan, anugerah yang harus kita syukuri dan kita pertanggung jawabkan kehadirat Allah . Anak juga menjadi harapan para orang tua. Harapan akan kelangsungan keturunan, harapan visi misi kekhalifahan di muka bumi ini. Sebenarnya jika dipikir secara jernih tanpa harus menggunakan dalil naqlipun, akan mengatakan hanya orang bodoh dan berlandaskan nafsu syahwat belakalah orang mau melaksanakan nikah

sesama jenis. Bahkan hewanpun tidak kita temukan kawin sesama jenis. Tetapi mengapa masih ada sekelompok orang melakukannya dan bahkan banyak negara melegalkan hal ini? Inilah perangkap Setan. Akankah Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia juga melegalkan?
Na’udzubillah mindzalik.

Rasulullah mengajarkan pada kita pisahkan tidur anak laki-laki dan perempuan, pakaikan baju anak laki-laki dengan baju laki-laki dan sebaliknya. Belikan mainan dan ajari perilaku sesuai dengan jenis kelaminnya. Bagaimana jika berkelamin dua? Pilih salah satu yang sesuai dengan organ dalamnya, misal jika ada rahimnya jadikan ia perempuan. Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah melaknat orang laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Sebagai agama penutup yang telah disempurnakan Is-lam memberikan panduan dan bimbingan pada umatnya begitu detail. Tentu sebagai seorang muslim harus mempelajarinya sehingga faham dan tidak terjebak pada perangkap-perangkap setan. Untuk mencegah virus homoseks, Rasulullah juga mengajarkan kita agar seorang laki-laki tidak melihat aurat laki-laki, demikian perempuan juga tidak melihat aurat perempuan (menurut ulama dalam hal ini yang dimaksud aurat sama dengan aurat laki-laki), Dan jangan laki-laki tidur satu selimut dengan laki-laki dan sebaliknya.

Hal lain untuk menyelamatkan anak kita dari virus LGBT adalah mengarahkan dan memantau pergaulan putra-putri kita. Dekatkan dengan ulama, kumpulkan dengan orang-orang yang suka ilmu dan ahli berjuang, serta jauhkan dari lingkungan lebai, happy-happy, dan hura-hura. Bukankah dalam tembang jawa kita sering diingatkan “wong kang shaleh kumpulono”? Dengan berbagai upaya ini mudah-mudahan Allah menyelamatkan anak-anak kita dari berbagai perangkap setan, aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar